Saturday, July 04, 2009
Manusia mengingat 90% ketika mencatat. Menjelang hari-hari bekerja yang segera datang saya ingin menyegarkan kembali ingatan dan pemahaman saya. Kali ini tentang active learning. Kita singkat saja AL.
Teori yang mendasari AL adalah Contructivism dari Piaget. Intinya, murid memulai pembelajaran melalui proses kebingungan atau ketidaktahuan, kemudian mendapat sebuah masukan/informasi baru, memproses informasi tersebut di otak, sampai mendapatkan pemahaman baru yang lebih menetap.
Proses pembelajaran bisa disebut AL jika:
1. Ada proses pemecahan masalah. Masalah tersebut juga harus muncul sealami mungkin karena situasi yang diciptakan guru. Lebih efektif jika murid mengkonstruksi sendiri masalahnya.
2. Bukan hanya otak yang bekerja, tetapi juga ada aktivitas fisik dengan benda konkrit. Konsep abstrak baru dapat diberikan setelah murid memahami konsep melalui benda konkrit. Di sisi lain, aktivitas yang diciptakan harus 'berisi', bukan cuma seru dan menyenangkan.
3. Muncul motivasi intrinsik dari murid. Syaratnya harus ada elemen-elemen berikut ini dari proses belajar:
- situasi yang menyenangkan
- ketertarikan
- perasaan 'bisa' dan kepercayaan diri dari murid
- tantangan yang mungkin dilalui murid (bukan yang terlalu susah)
- kontrol dari guru
Jika dipersingkat, maka resep dari AL adalah:
M - Materials : Bahan-bahan konkrit sebanyak mungkin yang dapat menstimulasi
M - Manipulation : Murid punya kesempatan untuk mengeksplorasi material.
C - Choice : Ada proses memilih untuk meningkatkan ketertarikan.
L - Language from students : Murid punya kesempatan mengutarakan isi pikiran.
S - Support from teacher : Guru mengawasi, mendukung, dan memfasilitasi proses belajar. Harus SEIMBANG antara kesempatan berbicara murid dengan guru.
Dalam kenyataannya, metode ini tidak mudah untuk diterapkan secara ideal. Tetapi, sebagai guru kita harus berpikir positif bukan hanya terhadap murid melainkan juga terhadap diri kita sendiri. Jika mereka akan bisa, kita pasti juga bisa. Oya, dan jangan lupa berdoa.
Saturday, March 28, 2009
Series of Innocent Story - 3
Sore itu Mei mengikuti ekskul bela diri bersama kakaknya. Sehari-hari ia pulang menggunakan mobil antar jemput sekolah, namun hari itu ia dijemput orang tuanya. Di saat aku dan rekanku sedang membereskan kelas, tiba-tiba datang Mei beserta kakaknya. Sang Kakak berusaha meminta nomor telepon orang tua mereka karena ternyata mereka belum juga dijemput. Namun ada yang aneh dengan Mei.
"Miss, aku basah banget nih...", katanya sambil tertawa-tawa. Kulihat seluruh bajunya memang basah kuyup, dan memang di luar sempat hujan, namun tak seharusnya ia berada di luar. "Ya ampun, Mei kenapa?" Awalnya aku khawatir. "Itu tadi aku diajak main sama Baba becek-becek. Aku guling-guling, Miss, enak..." Dalam sekejap kekhawatiranku berubah jadi sedikit kemarahan. "Kamu guling-guling di mana?" tanyaku. "Itu Miss, di lantai tiga itu lho yang ada air-air abis hujan," jelas Mei. "Itu Miss, di balkon lantai tiga yang tadi bekas kena hujan," sahut pengasuh Baba membantu menjelaskan. Baru aku mengerti.
Sejujurnya aku bingung harus bilang apa. Dia cuma bereksplorasi. Akhirnya aku cuma memberi sedikit nasehat padanya kalau perempuan tidak selamanya punya permainan yang sama dengan laki-laki, apalagi kalau memakai rok.

Tak lama kemudian orang tua mereka datang. Rupanya hari itu mereka memang akan dijemput karena orang tuanya harus mengantarkan kandang baru pengganti yang pecah. Kurang lebih, mereka juga tidak bisa berkata banyak. Sang ibu dengan sabar membantu Mei berganti pakaian. Sang ayah hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menasehatinya.
Sebenarnya, jujur, di luar kekacauan yang diperbuat Mei, aku harus acungi jempol untuk keberaniannya. Mungkin ia memang belum terlalu mengerti konsep 'resiko' atau 'akibat'. Tapi justru faktor kebebasan itulah yang membuatnya bereksplorasi banyak. Tinggal bagaiamana kita sebagai orang dewasa menjaganya dan membuat peraturan dalam mereka bereksplorasi untuk kelancaran prose eksplorasi itu sendiri. Agak berat... terlebih untuk aku yang jarang punya keberanian untuk mengambil resiko di dalam hidupku.
Go on, Mei..
"Miss, aku basah banget nih...", katanya sambil tertawa-tawa. Kulihat seluruh bajunya memang basah kuyup, dan memang di luar sempat hujan, namun tak seharusnya ia berada di luar. "Ya ampun, Mei kenapa?" Awalnya aku khawatir. "Itu tadi aku diajak main sama Baba becek-becek. Aku guling-guling, Miss, enak..." Dalam sekejap kekhawatiranku berubah jadi sedikit kemarahan. "Kamu guling-guling di mana?" tanyaku. "Itu Miss, di lantai tiga itu lho yang ada air-air abis hujan," jelas Mei. "Itu Miss, di balkon lantai tiga yang tadi bekas kena hujan," sahut pengasuh Baba membantu menjelaskan. Baru aku mengerti.
Sejujurnya aku bingung harus bilang apa. Dia cuma bereksplorasi. Akhirnya aku cuma memberi sedikit nasehat padanya kalau perempuan tidak selamanya punya permainan yang sama dengan laki-laki, apalagi kalau memakai rok.

Tak lama kemudian orang tua mereka datang. Rupanya hari itu mereka memang akan dijemput karena orang tuanya harus mengantarkan kandang baru pengganti yang pecah. Kurang lebih, mereka juga tidak bisa berkata banyak. Sang ibu dengan sabar membantu Mei berganti pakaian. Sang ayah hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menasehatinya.
Sebenarnya, jujur, di luar kekacauan yang diperbuat Mei, aku harus acungi jempol untuk keberaniannya. Mungkin ia memang belum terlalu mengerti konsep 'resiko' atau 'akibat'. Tapi justru faktor kebebasan itulah yang membuatnya bereksplorasi banyak. Tinggal bagaiamana kita sebagai orang dewasa menjaganya dan membuat peraturan dalam mereka bereksplorasi untuk kelancaran prose eksplorasi itu sendiri. Agak berat... terlebih untuk aku yang jarang punya keberanian untuk mengambil resiko di dalam hidupku.
Go on, Mei..
Friday, March 20, 2009
Series of Innocent Stories - 2
Sebut saja dia Mei. Seorang anak perempuan cantik berusia hampir 6 tahun. Lincah, modis tapi tomboy, dan punya hobi berbicara. Pagi itu dia datang ke sekolah setengah jam sebelum bel, bersama kakaknya, diantar oleh mobil antar jemput sekolah. Seperti biasa dia bermain di luar kelas bersama kakaknya sambil menunggu bel masuk. Seperti biasa juga, dia sedikit menabrak aturan. Kali ini, dia berjalan-jalan sampai halaman gedung II – yang menurut aturannya terlarang untuk murid seumurnya jika tanpa pendamping orang dewasa. Bersama kakaknya, Aning, dan temannya, Asti, dia melihat-lihat kandang reptil. Di sinilah cerita dimulai.
Di dalam mobil, aku tidak fokus menyetir karena memikirkan banyak hal yang harus diselesaikan di kelas sebelum termin ini berakhir. Kemudian aku berkata pada diriku sendiri, “Tenang.. tenang… Hari ini aku gak mau marah-marah sama sekali biar lebih tenang jalaninnya. Damai aja, biar lebih fokus mikir.” Sesampai di sekolah, aku menyapa murid-muridku yang sudah datang dengan senyum, berbincang-bincang dengan orang tua atau pengasuh yang menanyakan macam-macam hal.
Tiba-tiba datang Mei, Asti, dan Aning yang sambil ngos-ngosan berusaha menceritakan sesuatu bersama-sama, sehingga yang ditangkap olehku adalah kata-kata tidak beraturan. Aku yang sedang sibuk berbicara dengan orang di luar, saat itu menganggap bahwa mereka meracau tentang permainan khayalan mereka, seperti yang kadang mereka lakukan. Tak lama bel berbunyi. Aning kembali ke kelasnya. Asti dan Mei duduk bersebelahan di dekatku. Aku memimpin pertemuan pagi – rutinitas kami sebelum mulai belajar. Aku coba bangun aura pagi itu agar terasa ceria, namun ringan dan tidak berlebihan.
Cukup berhasil, sampai akhirnya Ms. Dalia, rekan mengajarku yang sedari tadi bolak-balik membuka pintu, mengumumkan sebuah berita penting, “Barusan Ms. dengar dari Bapak Satpam dan beberapa guru bahwa ada murid kelas ini yang memecahkan kandang ular, sehingga ularnya lepas dan membuat orang-orang di sekitarnya teriak ketakutan.” Saat itu di pikiranku, “Apalagi ini?” Aura yang terbangun runtuh semua. Hening. Agak mencekam.
Di dalam mobil, aku tidak fokus menyetir karena memikirkan banyak hal yang harus diselesaikan di kelas sebelum termin ini berakhir. Kemudian aku berkata pada diriku sendiri, “Tenang.. tenang… Hari ini aku gak mau marah-marah sama sekali biar lebih tenang jalaninnya. Damai aja, biar lebih fokus mikir.” Sesampai di sekolah, aku menyapa murid-muridku yang sudah datang dengan senyum, berbincang-bincang dengan orang tua atau pengasuh yang menanyakan macam-macam hal.
Tiba-tiba datang Mei, Asti, dan Aning yang sambil ngos-ngosan berusaha menceritakan sesuatu bersama-sama, sehingga yang ditangkap olehku adalah kata-kata tidak beraturan. Aku yang sedang sibuk berbicara dengan orang di luar, saat itu menganggap bahwa mereka meracau tentang permainan khayalan mereka, seperti yang kadang mereka lakukan. Tak lama bel berbunyi. Aning kembali ke kelasnya. Asti dan Mei duduk bersebelahan di dekatku. Aku memimpin pertemuan pagi – rutinitas kami sebelum mulai belajar. Aku coba bangun aura pagi itu agar terasa ceria, namun ringan dan tidak berlebihan.
Cukup berhasil, sampai akhirnya Ms. Dalia, rekan mengajarku yang sedari tadi bolak-balik membuka pintu, mengumumkan sebuah berita penting, “Barusan Ms. dengar dari Bapak Satpam dan beberapa guru bahwa ada murid kelas ini yang memecahkan kandang ular, sehingga ularnya lepas dan membuat orang-orang di sekitarnya teriak ketakutan.” Saat itu di pikiranku, “Apalagi ini?” Aura yang terbangun runtuh semua. Hening. Agak mencekam.

“Mei dan Asti, benar kamu tadi menendang kandang ular hingga pecah?” Mereka berdua membeku, mengangguk perlahan. “Sekarang Ms. tanya, siapa yang melakukan hal itu?” “Mei, Ms..,” kata Asti. “Nggak, itu Ms…. , kakak duluan,” bela Mei. “Kenapa kamu melakukan hal itu?” tanya Ms. Dalia. Mulut Mei seperti terkunci, tubuhnya seperti mematung. Sejujurnya aku sudah hafal ciri-ciri ini, karena bukan pertama kalinya dia kena teguran keras. Kami sebagai gurunya tahu, bahwa kalau sudah begini Mei tidak akan bicara. Mungkin akan menangis. Harus ditunggu sampai cair baru bisa bicara.
Selanjutnya seperti biasa, kami melanjutkan kegiatan kelas sementara anak yang bermasalah diajak berbicara. Mei masih bungkam. Akhirnya kami biarkan dia bergabung dengan teman-temannya. Perlahan, ia mencair. Hingga ketika siang hari, dia berkata padaku, “Tadi sebenarnya Asti gak tendang. Yang tendang itu aku sama kakak. Kakak duluan terus baru aku.” Karena itu adalah waktu makan siang, kuputuskan untuk menunda dulu pembicaraan tersebut sampai jam pulang sekolah. Saat itu, Mei kembali ceria. Aku sendiri agak bingung, karena biasanya ketika dia sadar bahwa dia bersalah, dia akan menangis sejadi-jadinya. Kenapa belum, ya?
Setelah makan siang, kuputuskan menelpon orang tua Mei untuk melaporkan kejadian tersebut dan meminta kesediaan mereka untuk menjemput Mei sambil menyelesaikan masalah ini bersama-sama. Selain itu kutelpon juga penjaga binatang sekolah untuk meminta kesediaannya datang di waktu yang sama. Reaksi Bapak Mei – yang kebetulan mengangkat telpon – cukup kooperatif. Reaksi Mr. Oman sang penjaga binatang sekolah juga sangat kooperatif. Ia hanya tertawa dan memaklumi yang terjadi.
Pulang sekolah tiba. Aku duduk berhadapan dengan Mei. Aku lihat lurus tajam ke matanya. Ia sepertinya mengerti dan tertunduk diam. Baru satu kata aku ucapkan, seorang laki-laki mengetuk pintu dan memperkenalkan dirinya sebagai Mr. Oman, penjaga binatang sekolah. Aku ajak Mei dan Asti untuk langsung mendekati Mr. Oman dan meminta maaf. Detik itu juga, menangislah Mei sekeras-kerasnya. Akhirnya. Ia tidak mau berdiri. Asti membujuknya, “Ayo Mei, tinggal minta maaf aja terus udah.” Aku beri pilihan, mau digendong atau berjalan sendiri. Mei memilih tetap menangis dan menempelkan mukanya di pinggangku.

Asti menyalami Mr. Oman dan meminta maaf. Mr. Oman hanya tertawa dan bilang tidak apa-apa. Mei? Aku sudah bisa tebak. Semakin kami mendekat dengan Mr. Oman, semakin keras tangisannya. Mr. Oman sibuk menenangkannya dengan berkata bahwa semuanya baik-baik saja, tidak apa-apa. Tentu saja tidak mempan. Mei hanya menangis. Akhirnya Mr. Oman mencoba meraih tangannya dan menyalaminya, semacam simbol perdamaian. Tetap saja, tangisan Mei belum mereda. Aku biarkan dulu Mei ditemani oleh Asti di sudut ruangan kelas, sementara aku membicarakan penyelesaian masalahnya dengan Mr. Oman. Sayangnya orangtua Mei belum datang juga ketika Mr. Oman akan pergi. Tapi setidaknya sementara ini masalahnya sudah selesai.
Tak sampai 15 menit kemudian, ketika aku sedang merapikan kelas, datang kedua orang tua Mei. Kupersilakan mereka duduk. Sementara mereka ditemani Ms. Dalia, aku memanggil Mei yang terduduk di sudut ruangan dikelilingi oleh teman-temannya yang sedang menunggu dijemput. Terlihat air mata Mei mulai mengering. Kuajak Mei bicara dengan orang tuanya untuk menyelesaikan masalah. Ia refleks menolak ajakan itu, dan seperti biasa tak sampai 10 detik kemudian, ia menangis lagi sekencang-kencangnya.
Akhirnya, sampai juga cerita ini pada bagian akhirnya. Mei terduduk di pangkuan ibunya dengan air mata yang masih sedikit menggenang. Kami, para guru, menjelaskan seluruh kejadian lengkap dan permasalahannya, beserta konsekuensi yang diterima Mei setelah ini. Beruntung Bapaknya cukup kooperatif. Ketika Mei sudah mulai tenang dan mau berbicara, ia meminta Mei mengucapkan janji akan melakukan konsekuensi dari perbuatannya: “Aku janji tidak akan keluar kelas pagi-pagi sampai bel masuk bunyi.” Kami memutuskan untuk memberlakukan konsekuensi tersebut baginya sampai termin ini berakhir.
Oya, tentu saja, orang tua Mei harus mengganti kandang kaca yang pecah dengan yang baru. Tidak sulit tentunya bagi keluarga mereka yang berkecukupan. Tapi siapa yang menyangka kalau akuarium baru itu mendatangkan lagi seri cerita yang lain?
Bersambung…
Monday, March 16, 2009
Series of Innocent Story - 1
Hari ini aku memeriksa pekerjaan rumah muridku. Mereka diminta menulis surat untuk siapa saja yang mereka mau. Kutemukan dua surat yang sangatt... menggugah hatiku. Rasanya seperti..., "Ooohh so sweet..." :) Apalagi keduanya datang dari anak yang biasanya kelihatan tidak terlalu perasa. Seperti kejutan kecil buatku.
Aku ketik ulang suratnya, dan kuganti namanya. Silahkan menikmati kemurnian hati mereka...
Yang pertama, dari seorang anak perempuan untuk papanya.
Kepada
Papa
di Singapore
Dear my Papa,
Papa, Cutie sayang sama papa dan Cutie mau pintar setiap hari.
Cutie waktu kecil selalu disayang papa selalu sayang Cutie. Cutie juga sayang Papa.
Dari Cutie,
Salam manis.
Oya, FYI, papanya sudah berpisah dengan ibunya.
Ini yang kedua
9-03-2009
Untuk Aris
Halo Aris apa kabar? Hari ini aku sedih sekali. Kelinci yang aku beli kemarin mati. Besok aku mau kubur.
Salam manis
David

David ini adalah seorang pecinta binatang sejati.
Bersyukur masih ada mereka yang mengingatkanku untuk bertindak dengan hati..
Thx, guys. I learn from you a lot.. :)
Aku ketik ulang suratnya, dan kuganti namanya. Silahkan menikmati kemurnian hati mereka...
Yang pertama, dari seorang anak perempuan untuk papanya.
Kepada

Papa
di Singapore
Dear my Papa,
Papa, Cutie sayang sama papa dan Cutie mau pintar setiap hari.
Cutie waktu kecil selalu disayang papa selalu sayang Cutie. Cutie juga sayang Papa.
Dari Cutie,
Salam manis.
Oya, FYI, papanya sudah berpisah dengan ibunya.
Ini yang kedua
9-03-2009
Untuk Aris
Halo Aris apa kabar? Hari ini aku sedih sekali. Kelinci yang aku beli kemarin mati. Besok aku mau kubur.
Salam manis
David

David ini adalah seorang pecinta binatang sejati.
Bersyukur masih ada mereka yang mengingatkanku untuk bertindak dengan hati..
Thx, guys. I learn from you a lot.. :)
Tuesday, December 30, 2008
A birthday card from the family...
Bukan kejutan yang besar... hanya sebuah kartu.. Tapi kali ini entah mengapa kata-kata yang tertulis seperti menghembuskan angin sejuk pada dunia yang kuhadapi belakangan ini..
Memang ini copyright-nya Hallmark. Siapapun penulisnya, terimakasih telah membaginya untuk hidupku..
"A birthday isn't just a time to think about how old you are - it's also a chance to reflect upon how new you are, too... because every day you're changing and growing, dreaming and doing new things. So on your birthday, may you feel good about the person you've become and all that you've accomplished and also celebrate the adventure of tomorrow that's out there waiting just for you."
Saturday, December 20, 2008
Fix rates
Ini tarif Monginsidi Guest House:
Garuda I: Rp. 380.000
Rajawali I-IV: Rp. 340.000
Kepodang I-III: Rp. 275.000
Plus... dalam rangka pembukaan.. di musim liburan ini masih ada diskon sampai dengan 25%.
Pesan tempat dari sekarang ya biar nggak keabisan...
Garuda I: Rp. 380.000
Rajawali I-IV: Rp. 340.000
Kepodang I-III: Rp. 275.000
Plus... dalam rangka pembukaan.. di musim liburan ini masih ada diskon sampai dengan 25%.
Pesan tempat dari sekarang ya biar nggak keabisan...
Thursday, December 04, 2008
Monginsidi & Mie Ceker Bandung di Yogyakarta
Saat ini Mie Ceker Bandung (MCB) dapat anda nikmati di kota wisata YOGYAKARTA. Bertempat di Jl. Monginsidi, Jetis, sebelah utara Yogyakarta, MCB kali ini tidak sendirian. Anda bisa menikmati fasilitas guest house "Monginsidi" yang memanjakan anda saat berlibur.
Ups, lupa... mungkin masih ada yang belum kenal dengan MCB..
Apa sih yang bisa dinikmati dari MCB?
-Mie ayam + ceker dengan rasa yang spesial
-Menu favorit: Mie Ceker Rica-Rica... Pedasnya gigit!
-Nasi goreng dengan rasa yang bersaing
-Serta berbagai menu mie dan nasi lainnya - tentunya masih dengan ceker di atasnya.. hmm..
-Jangan lupa juga juice-juice segar yang menambah kenikmatan bersantap
-Makan enak jadi tambah enak kalau tempatnya nyaman..
Kalau betah makan di MCB, sekalian saja menginap di Monginsidi...
Dapatkan fasilitas-fasilitas ini:
- Kamar dengan kisaran tarif 150 - 350 ribu rupiah..
- Kamar mandi shower dengan air panas
- Televisi, lemari.
- Rental mobil
- Laundry
- Breakfast
...plus....
- .......kenyamanan seperti di rumah.....
Karena liburan tidak menunggu..
dan Anda layak untuk menikmati semuanya...
Segera hubungi kami di 0274 - 512 767
Atau datang langsung ke Jl. RW Monginsidi no. 7, Yogyakarta.

Kami tunggu kedatangannya!
