Sunday, March 28, 2010

Valentine's Day Original Motion Picture Soundtrack


BELI ALBUM INI. Sangat direkomendasikan.
Album ini diisi oleh beberapa musisi ternama masa kini, beberapa musisi senior, dan beberapa musisi yang sangat baru - tapi sangat berbakat.
Meskipun judulnya Valentine's Day, album ini tidak berisi lagu-lagu pop-melankolik. Musiknya beragam dan rata-rata membawa aura positif yang membangkitkan semangat. Ada jazz, country-pop, folk-pop, pop-reggae, dsb.
Ini 5 terfavoritku... :)
5. On The Street Where You Live - Willie Nelson (from American Classic album)
Willie Nelson adalah country singer-songwriter dari Amerika yang berjaya pada sekitar tahun 70-an. Lagu ini tidak kalah tua dari sang penyanyi, dirilis tahun 1956. Willie Nelson membawakan ulang lagu ini di pada album American Classic yang dirilisnya tahun 2009 lalu.
4. The Way You Look Tonight - Maroon Five
Semua orang pasti sudah mengenal band ini. Namun siapa sangka Maroon Five membawakan lagu standar big band jazz semacam ini? Lagu The Way You Look Tonight sendiri adalah lagu Amerika klasik yang pernah memenangkan Academy Awards di tahun 1936 dan masih sering dibawakan ulang oleh berbagai musisi hingga saat ini.
3. 4 and 20 - Joss Stone
Lagu ini diciptakan sendiri oleh Joss Stone dan 2 orang rekannya dan telah dirilis pada tahun 2009 lalu. Lagu bernuansa jazz ini sangat kuat menonjolkan suara Joss Stone yang khas.
2. Keep On Loving You - Steel Magnolia
Two thumbs up buat duo baru ini. Steel Magnolia adalah duo baru yang merupakan jebolan ajang pencarian bakat di saluran TV musik country di Amerika, "Can You Duet?". Mereka menjadi pemenang season 2 acara ini dan telah merilis lagu Keep On Loving You sebagai single pertama mereka di tahun 2009 lalu. Meghan Linsey dan Joshua Scott Jones, anggota duo ini adalah sepasang kekasih yang sama-sama berbakat dalam musik.
1. Valentino - Diane Birch
Penyanyi pendatang baru ini SANGAT SANGAT SANGAT berbakat. Ia merilis album pertamanya di tahun 2009 lalu dengan lagu Valentino sebagai salah satu singlenya. Four thumbs up!!
Selamat mendengarkan!
Beli yang asli ya.. Walaupun memang agak susah didapatkan di toko-toko CD, tapi pasti masih ada kok. Selamat mencari.

Sunday, March 07, 2010

Departures - A Japanese Movie; one of the best.


Film ini bukan film sekedar cinta, bukan sekedar perjalanan hidup, tetapi lebih dari semua itu. Saya rasa kita semua butuh menyaksikan film ini untuk sekedar berhenti dan berefleksi - emosional maupun logikal.


Garis besarnya, film ini bercerita mengenai seorang pemuda yang ditinggal pergi bapaknya sejak kecil, sementara ibunya meninggal ketika dia remaja. Ia telah menikah dan meniti karir sebagai pemain cello. Namun nasib berkata lain, orkestra tempat ia bekerja bangkrut, sehingga ia memutuskan untuk tinggal di rumah warisan ibunya, kembali ke kampung halaman.

Sesampai di sana, ia mencari pekerjaan apapun untuk memenuhi kebutuhan hidup. Di sini lah perjalanan dimulai. Takdir membawanya pada profesi langka - perias jenazah.


Saya tidak mau merusak kemasan cerita yang murni disampaikan oleh film ini. Jadi untuk selanjutnya silahkan tonton filmnya, atau lihat situs ini: http://www.departures-themovie.com/


Tentang kematianlah yang kemudian mengusik saya. Bukan cuma karena film ini. Tetapi film ini mendesak saya untuk menuliskannya.


Seorang bapak tua penyala api kremasi mengartikan kematian sebagai gerbang menuju sesuatu yang lain. Kematian bukanlah akhir, tetapi merupakan awal dari sesuatu yang lain. Oleh karenanya ia selalu mengatakan kepada jenazah yang ia kremasi, "Sampai bertemu.. "


Secara teori, kita tahu itu. Sebagai orang yang beragama kita tahu itu. Tapi apakah kita paham? Apakah kita rela? Apakah kita bisa benar-benar mengatakan, "Sampai bertemu," dengan hati yang tulus dan kesiapan yang penuh?


Sedemikian kecil hidup kita ini, jika kita bisa benar-benar memandang jauh pada masa di luar kehidupan.

Semua hal hanya terjadi sekali. Setiap momen di setiap detik hanya terjadi sekali. Dan kita tidak pernah tahu kapan detik kita akan habis.

Tapi kapanpun itu, seberapa panjang apapun itu, detik-detik kita hanyalah sebuah titik yang kecil.


Jujur saja, tidak mudah buat saya sendiri untuk menerima dengan tulus ikhlas pemahaman ini.

Sedih.


Sebagai seorang muslim,

Mungkin kita sering membaca Al Asr dlm shalat kita, dan tanpa sadar kita berulang kali mengingatkan diri kita sendiri soal 'masa' ini.

Tapi kita juga dengan mudah lupa.


Ok, kita mulai dari yang kita bisa.

Awali dengan mengisi setiap detik dengan sesuatu yang bermakna. Jangan biarkan satu detikpun mubazir untuk kemudharatan. Insya Allah.


Mari berjuang :)

Monday, January 04, 2010

New year 2009-2010 trip to Jogjakarta :)

I really want to make this kind of journal since long ago, but never got chance to do it. Hopefully this one is done properly.

We arrived at lunch time so we went straight away to a 'lesehan' restaurant at Cangkringan called Moro Lenjar. The 'Ikan Mas Goreng' is super delicious! The taste of the fish itself is very unique, so sorry I can't describe it in words.

Finished eating, we went to a batik boutiqe called 'Batik Tirto Noto'. I didn't get much on that store, but my mom did. Then, we went to our own guesthouse Monginsidi to take a rest for some hours, preparing ourselves for a show tonight. A show?

Yes, it was a very..very special show.. It's 'Sendratari Ramayana' at Candi Prambanan. I didn't know much about the story and it surprised me that my mom MASTERED the story line. Here are some best pics that I could get:


Shinta was kidnapped by Rahwana.


This is the ending - happy ending... Rama and Shinta are back together again. ;)

Then, we were very hungry and didn't need much time to decide what we're going to eat. We ate at Nasi Gudeg at Sagan street.
Second day, we planned to go to a beach, 'Baron' or 'Krakal' but eventually we decided to go to Solo. On the way to Solo, we visited a village called 'Desa Tembih'. There are some traditional guest houses there. The concept is sort of 'back to nature' thing.



As you can see here, even the bath room is made of stone and open sky.











We needed to cross the river to reach the other house.







In some other area, there is a batik boutiqe and craft shop.




Then, we ate at a local restaurant called 'Kusumasari'. It's an old restaurant selling foods with low price yet the portion is very small... :D We also bought Serabi Notosuman for sure (but I like the Jakarta's version better, not too sweet). But the lekker is very yummy...
Not only eat, we also visited other batik boutiqe called Putra Laweyan. I like batik style in Solo more than in Jogja. It's more stylish I think..


At night..
Went back to Jogja..! We already booked a table at Gajah Wong restaurant. Nothing really special about this place except for the design. Well, I have to admit that we were a little bit upset at the moment. For me, especially because of the poor music and sound system :(

The gamelan was ok.
At 11 o'clock, an average band performed with low quality - sorry.. But hello...! This is Jogja! City of art...!! But then, a bule voluntarily played guitar and sang like a pro! Maybe he is.. I don't have a clue. It saved the night. Thank you, dear Mr...
Well, happy new year everybody!


On the next day, we went to Semarang to visit our relatives that were going through a hard time in hospital for some days. We have Soto Bangkong for lunch. And it took about more than 3 hours to get back to Jogja because of traffic jam! At night, we couldn't find a restaurant to eat, it was full everywhere.. so we ended up at a Sate Kaki Lima Pak Udin, next to the guest house! hahaha.. But it was very yummy, it was one of our favorite, actually.



The last day...Shopping at Malioboro!!
I like Malioboro because of its artworks everywhere..

Well, this was the last day...
I was pretty satisfied... I still love Jogja... :) I hope Jakarta could be a city with more culture and art on it. Hopefully... :)

Monday, December 28, 2009

Renungan (sebelum) Ulang Tahun





Sebenarnya setiap bertambahnya hari maka berkuranglah sisa hidup kita di dunia. Bedanya, besok perhitungan itu digenapkan menjadi tahun – 26 tahun. Berarti 26 tahun sudah jatah hidupku aku lalui. Berapa sisanya, kita tidak akan pernah tahu dan harus pasrah dengan itu. Lebih penting lagi… seharusnya kita mempertanyakan apakah 26 tahun yang kulalui sudah cukup menjadi bekal kehidupan yang selanjutnya?

Aku sesali banyak hal yang sudah terjadi.
Aku bersyukur untuk banyak hal juga, dan bersyukur bahwa aku bisa punya perasaan kesal terhadap kesalahan di masa lalu – setidaknya itu tahapan awal untuk sebuah kesadaran baru.
Aku tidak tahu harus menyesal atau bersyukur untuk beberapa hal. Hal-hal yang secara duniawi terasa indah, tapi aku tidak tahu apakah itu berarti di kehidupan kekal nanti.
Kadang aku bersyukur juga dipertemukan dengan beberapa orang karena aku bisa belajar banyak, tapi menyesali jenis hubungan yang terbangun, yang nantinya malah jadi memutuskan tali silahturahmi.

Mungkin biasanya aku terlihat nyaman dengan diriku. Aku terlihat sederhana dan ‘baik-baik saja’. Aku juga seringkali punya semangat dan energi tinggi, dan suka menularkannya pada orang lain. Aku mensyukuri sisi itu dari diriku.

Tapi kadang ada saat-saat di mana aku membongkar habis kebusukan diriku sendiri, dan kubenci diriku karena aku merasa seperti kotoran yang dibungkus kulit pastel yang renyah. Aku benci karena selalu berusaha terlihat ‘baik-baik saja’ dan menjadikan itu standar penampilanku di mana saja, bahkan kadang di rumah..


Terlepas dari semuanya..
Terimakasihku yang paling besar tentu aku ucapkan pada Sang Pencipta, Allah SWT. Alhamdulillah, aku masih ditunjukkan berbagai jalan untuk selalu lebih dekat denganNya. Aku menghargai setiap tawa maupun air mata yang Allah SWT berikan untukku. Insya Allah aku selalu percaya dan yakin bahwa apapun itu adalah yang terbaik buatku, selama aku tetap berusaha dekat.

Terimakasihku atas perjalanan hidup yang telah kulalui juga kuberikan pada keluargaku yang alhamdulillah selalu dilimpahi dengan kasih sayang. Kami memang sekumpulan manusia biasa, kadang kami salah, kadang kami lupa, kadang kami saling bersinggungan…Tapi keluargaku inilah yang selalu ada, kapanpun, apapun, di manapun. Bahkan aku bisa meneteskan mata hanya dengan membayangkan sosok mereka di dalam doaku.





Terimakasihku juga kuberikan untuk semua orang – s e m u a - yang bersinggungan hidup denganku. Orang-orang yang selalu memberikanku rasa bahagia, orang-orang yang melukaiku… semuanya punya peran dalam proses belajar dan pembekalanku di dunia ini. Yah, walaupun aku jarang benci orang, tapi adalah orang-orang yang tidak ingin kudengar lagi namanya…Aku berterimakasih karena dengan adanya mereka, aku belajar untuk merelakan, ikhlas, bahwa mereka masih ada di dunia ini, sama-sama sebagai manusia. Terima kenyataan bahwa aku gak bisa berpura-pura mereka tidak ada.


Tahun ini, aku belajar banyak hal.. Beberapa di antaranya adalah:

- Coba ikhlas kapan saja, di mana saja, bahkan ketika lagi macet dan hampir telat pas masih di jalanan.
- Diriku adalah orang biasa. Dan semua orang adalah spesial. Jadi aku tidak lebih spesial dari siapapun.
- Semakin bertambah umur kita, kenyataan (realita) memaksa masuk lebih dalam ke kehidupan kita, dan hanya menyisakan ruang yang sempit untuk mimpi.


Ya Allah, hanya kepadaMu kami memohon, hanya kepada Mu kami menyembah, hanya kepadaMu kami kembali. Mohon bimbinganMu slalu, ya Allah. Amin.











Thursday, November 26, 2009

Renungan Idul Adha

Singkat saja.. Pendapat pribadi hasil pengetahuan yang seadanya...

Esensi Idul Adha itu kan kurban. Secara teknisnya, orang yang mampu akan melakukan kurban kambing/sapi sesuai kemampuannya. Kemudian kalau bisa melakukan puasa sunah. Shalat Idul Adha, dan siangnya berdoa sambil menyaksikan kambingnya dipotong.

Mungkin bagi sebagian orang tidak terlalu terasa 'pengorbanannya'. Apalagi buat orang2 yang suka menyumbang kemana2 sampai berjuta-juta. Mungkin bahkan sapi 10jt tidak berat buat dia karena itu bahkan tidak sampai 5% dari hartanya.

Kalau dipikir-pikir, kadang lebih berat untuk mengorbankan waktu, momen, aktifitas favorit demi Allah SWT. Lebih mudah untuk beli kambing daripada harus memotong waktu tidur untuk shalat malam, memotong waktu kerja untuk shalat sunah, memotong waktu santai sambil internetan untuk baca Al Quran lebih lama. Kadang kita 'menjatahkan' waktu ibadah, tapi bisa lupa waktu ketika bekerja atau beraktifitas yang kita suka.

Lebih mudah juga untuk menyaksikan kambing dipotong (mungkin ngilu sedikit) daripada merelakan orang pergi dari kehidupan kita, menyaksikan keluarga dipanggil Allah SWT, atau kehilangan barang berharga.

Jadi, mungkin ketika kita bisa 'melebihkan' ibadah di atas kepentingan pribadi duniawi -kapanpun, dimanapun - , di situ lah kita mendapatkan esensi kurban yang sebenarnya.

Ikhlas adalah salah satu tantangan terbesar hidup manusia.

Saturday, July 04, 2009

Active Learning

Manusia mengingat 90% ketika mencatat. Menjelang hari-hari bekerja yang segera datang saya ingin menyegarkan kembali ingatan dan pemahaman saya. Kali ini tentang active learning. Kita singkat saja AL.
Teori yang mendasari AL adalah Contructivism dari Piaget. Intinya, murid memulai pembelajaran melalui proses kebingungan atau ketidaktahuan, kemudian mendapat sebuah masukan/informasi baru, memproses informasi tersebut di otak, sampai mendapatkan pemahaman baru yang lebih menetap.
Proses pembelajaran bisa disebut AL jika:
1. Ada proses pemecahan masalah. Masalah tersebut juga harus muncul sealami mungkin karena situasi yang diciptakan guru. Lebih efektif jika murid mengkonstruksi sendiri masalahnya.
2. Bukan hanya otak yang bekerja, tetapi juga ada aktivitas fisik dengan benda konkrit. Konsep abstrak baru dapat diberikan setelah murid memahami konsep melalui benda konkrit. Di sisi lain, aktivitas yang diciptakan harus 'berisi', bukan cuma seru dan menyenangkan.
3. Muncul motivasi intrinsik dari murid. Syaratnya harus ada elemen-elemen berikut ini dari proses belajar:
- situasi yang menyenangkan
- ketertarikan
- perasaan 'bisa' dan kepercayaan diri dari murid
- tantangan yang mungkin dilalui murid (bukan yang terlalu susah)
- kontrol dari guru
Jika dipersingkat, maka resep dari AL adalah:
M - Materials : Bahan-bahan konkrit sebanyak mungkin yang dapat menstimulasi
M - Manipulation : Murid punya kesempatan untuk mengeksplorasi material.
C - Choice : Ada proses memilih untuk meningkatkan ketertarikan.
L - Language from students : Murid punya kesempatan mengutarakan isi pikiran.
S - Support from teacher : Guru mengawasi, mendukung, dan memfasilitasi proses belajar. Harus SEIMBANG antara kesempatan berbicara murid dengan guru.
Dalam kenyataannya, metode ini tidak mudah untuk diterapkan secara ideal. Tetapi, sebagai guru kita harus berpikir positif bukan hanya terhadap murid melainkan juga terhadap diri kita sendiri. Jika mereka akan bisa, kita pasti juga bisa. Oya, dan jangan lupa berdoa.

Saturday, March 28, 2009

Series of Innocent Story - 3

Sore itu Mei mengikuti ekskul bela diri bersama kakaknya. Sehari-hari ia pulang menggunakan mobil antar jemput sekolah, namun hari itu ia dijemput orang tuanya. Di saat aku dan rekanku sedang membereskan kelas, tiba-tiba datang Mei beserta kakaknya. Sang Kakak berusaha meminta nomor telepon orang tua mereka karena ternyata mereka belum juga dijemput. Namun ada yang aneh dengan Mei.



"Miss, aku basah banget nih...", katanya sambil tertawa-tawa. Kulihat seluruh bajunya memang basah kuyup, dan memang di luar sempat hujan, namun tak seharusnya ia berada di luar. "Ya ampun, Mei kenapa?" Awalnya aku khawatir. "Itu tadi aku diajak main sama Baba becek-becek. Aku guling-guling, Miss, enak..." Dalam sekejap kekhawatiranku berubah jadi sedikit kemarahan. "Kamu guling-guling di mana?" tanyaku. "Itu Miss, di lantai tiga itu lho yang ada air-air abis hujan," jelas Mei. "Itu Miss, di balkon lantai tiga yang tadi bekas kena hujan," sahut pengasuh Baba membantu menjelaskan. Baru aku mengerti.



Sejujurnya aku bingung harus bilang apa. Dia cuma bereksplorasi. Akhirnya aku cuma memberi sedikit nasehat padanya kalau perempuan tidak selamanya punya permainan yang sama dengan laki-laki, apalagi kalau memakai rok.



Tak lama kemudian orang tua mereka datang. Rupanya hari itu mereka memang akan dijemput karena orang tuanya harus mengantarkan kandang baru pengganti yang pecah. Kurang lebih, mereka juga tidak bisa berkata banyak. Sang ibu dengan sabar membantu Mei berganti pakaian. Sang ayah hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menasehatinya.





Sebenarnya, jujur, di luar kekacauan yang diperbuat Mei, aku harus acungi jempol untuk keberaniannya. Mungkin ia memang belum terlalu mengerti konsep 'resiko' atau 'akibat'. Tapi justru faktor kebebasan itulah yang membuatnya bereksplorasi banyak. Tinggal bagaiamana kita sebagai orang dewasa menjaganya dan membuat peraturan dalam mereka bereksplorasi untuk kelancaran prose eksplorasi itu sendiri. Agak berat... terlebih untuk aku yang jarang punya keberanian untuk mengambil resiko di dalam hidupku.



Go on, Mei..