
Sunday, March 28, 2010
Valentine's Day Original Motion Picture Soundtrack

| Reactions: |
Sunday, March 07, 2010
Departures - A Japanese Movie; one of the best.

| Reactions: |
Monday, January 04, 2010
New year 2009-2010 trip to Jogjakarta :)
We arrived at lunch time so we went straight away to a 'lesehan' restaurant at Cangkringan called Moro Lenjar. The 'Ikan Mas Goreng' is super delicious! The taste of the fish itself is very unique, so sorry I can't describe it in words.
Yes, it was a very..very special show.. It's 'Sendratari Ramayana' at Candi Prambanan. I didn't know much about the story and it surprised me that my mom MASTERED the story line. Here are some best pics that I could get:
Then, we were very hungry and didn't need much time to decide what we're going to eat. We ate at Nasi Gudeg at Sagan street.
As you can see here, even the bath room is made of stone and open sky.
We needed to cross the river to reach the other house.
Then, we ate at a local restaurant called 'Kusumasari'. It's an old restaurant selling foods with low price yet the portion is very small... :D We also bought Serabi Notosuman for sure (but I like the Jakarta's version better, not too sweet). But the lekker is very yummy...
Not only eat, we also visited other batik boutiqe called Putra Laweyan. I like batik style in Solo more than in Jogja. It's more stylish I think..
At night..
Went back to Jogja..! We already booked a table at Gajah Wong restaurant. Nothing really special about this place except for the design. Well, I have to admit that we were a little bit upset at the moment. For me, especially because of the poor music and sound system :(
The gamelan was ok.
At 11 o'clock, an average band performed with low quality - sorry.. But hello...! This is Jogja! City of art...!! But then, a bule voluntarily played guitar and sang like a pro! Maybe he is.. I don't have a clue. It saved the night. Thank you, dear Mr... Well, happy new year everybody!
On the next day, we went to Semarang to visit our relatives that were going through a hard time in hospital for some days. We have Soto Bangkong for lunch. And it took about more than 3 hours to get back to Jogja because of traffic jam! At night, we couldn't find a restaurant to eat, it was full everywhere.. so we ended up at a Sate Kaki Lima Pak Udin, next to the guest house! hahaha.. But it was very yummy, it was one of our favorite, actually.
The last day...Shopping at Malioboro!!
I like Malioboro because of its artworks everywhere..
Well, this was the last day...
I was pretty satisfied... I still love Jogja... :) I hope Jakarta could be a city with more culture and art on it. Hopefully... :)
| Reactions: |
Monday, December 28, 2009
Renungan (sebelum) Ulang Tahun
Sebenarnya setiap bertambahnya hari maka berkuranglah sisa hidup kita di dunia. Bedanya, besok perhitungan itu digenapkan menjadi tahun – 26 tahun. Berarti 26 tahun sudah jatah hidupku aku lalui. Berapa sisanya, kita tidak akan pernah tahu dan harus pasrah dengan itu. Lebih penting lagi… seharusnya kita mempertanyakan apakah 26 tahun yang kulalui sudah cukup menjadi bekal kehidupan yang selanjutnya?
Aku sesali banyak hal yang sudah terjadi.
Aku bersyukur untuk banyak hal juga, dan bersyukur bahwa aku bisa punya perasaan kesal terhadap kesalahan di masa lalu – setidaknya itu tahapan awal untuk sebuah kesadaran baru.
Aku tidak tahu harus menyesal atau bersyukur untuk beberapa hal. Hal-hal yang secara duniawi terasa indah, tapi aku tidak tahu apakah itu berarti di kehidupan kekal nanti.
Kadang aku bersyukur juga dipertemukan dengan beberapa orang karena aku bisa belajar banyak, tapi menyesali jenis hubungan yang terbangun, yang nantinya malah jadi memutuskan tali silahturahmi.
Mungkin biasanya aku terlihat nyaman dengan diriku. Aku terlihat sederhana dan ‘baik-baik saja’. Aku juga seringkali punya semangat dan energi tinggi, dan suka menularkannya pada orang lain. Aku mensyukuri sisi itu dari diriku.
Tapi kadang ada saat-saat di mana aku membongkar habis kebusukan diriku sendiri, dan kubenci diriku karena aku merasa seperti kotoran yang dibungkus kulit pastel yang renyah. Aku benci karena selalu berusaha terlihat ‘baik-baik saja’ dan menjadikan itu standar penampilanku di mana saja, bahkan kadang di rumah..
Terlepas dari semuanya..
Terimakasihku yang paling besar tentu aku ucapkan pada Sang Pencipta, Allah SWT. Alhamdulillah, aku masih ditunjukkan berbagai jalan untuk selalu lebih dekat denganNya. Aku menghargai setiap tawa maupun air mata yang Allah SWT berikan untukku. Insya Allah aku selalu percaya dan yakin bahwa apapun itu adalah yang terbaik buatku, selama aku tetap berusaha dekat.

Terimakasihku atas perjalanan hidup yang telah kulalui juga kuberikan pada keluargaku yang alhamdulillah selalu dilimpahi dengan kasih sayang. Kami memang sekumpulan manusia biasa, kadang kami salah, kadang kami lupa, kadang kami saling bersinggungan…Tapi keluargaku inilah yang selalu ada, kapanpun, apapun, di manapun. Bahkan aku bisa meneteskan mata hanya dengan membayangkan sosok mereka di dalam doaku.
Terimakasihku juga kuberikan untuk semua orang – s e m u a - yang bersinggungan hidup denganku. Orang-orang yang selalu memberikanku rasa bahagia, orang-orang yang melukaiku… semuanya punya peran dalam proses belajar dan pembekalanku di dunia ini. Yah, walaupun aku jarang benci orang, tapi adalah orang-orang yang tidak ingin kudengar lagi namanya…Aku berterimakasih karena dengan adanya mereka, aku belajar untuk merelakan, ikhlas, bahwa mereka masih ada di dunia ini, sama-sama sebagai manusia. Terima kenyataan bahwa aku gak bisa berpura-pura mereka tidak ada.
Tahun ini, aku belajar banyak hal.. Beberapa di antaranya adalah:
- Coba ikhlas kapan saja, di mana saja, bahkan ketika lagi macet dan hampir telat pas masih di jalanan.
- Diriku adalah orang biasa. Dan semua orang adalah spesial. Jadi aku tidak lebih spesial dari siapapun.
- Semakin bertambah umur kita, kenyataan (realita) memaksa masuk lebih dalam ke kehidupan kita, dan hanya menyisakan ruang yang sempit untuk mimpi.
| Reactions: |
Thursday, November 26, 2009
Renungan Idul Adha
Esensi Idul Adha itu kan kurban. Secara teknisnya, orang yang mampu akan melakukan kurban kambing/sapi sesuai kemampuannya. Kemudian kalau bisa melakukan puasa sunah. Shalat Idul Adha, dan siangnya berdoa sambil menyaksikan kambingnya dipotong.
Mungkin bagi sebagian orang tidak terlalu terasa 'pengorbanannya'. Apalagi buat orang2 yang suka menyumbang kemana2 sampai berjuta-juta. Mungkin bahkan sapi 10jt tidak berat buat dia karena itu bahkan tidak sampai 5% dari hartanya.
Kalau dipikir-pikir, kadang lebih berat untuk mengorbankan waktu, momen, aktifitas favorit demi Allah SWT. Lebih mudah untuk beli kambing daripada harus memotong waktu tidur untuk shalat malam, memotong waktu kerja untuk shalat sunah, memotong waktu santai sambil internetan untuk baca Al Quran lebih lama. Kadang kita 'menjatahkan' waktu ibadah, tapi bisa lupa waktu ketika bekerja atau beraktifitas yang kita suka.
Lebih mudah juga untuk menyaksikan kambing dipotong (mungkin ngilu sedikit) daripada merelakan orang pergi dari kehidupan kita, menyaksikan keluarga dipanggil Allah SWT, atau kehilangan barang berharga.
Jadi, mungkin ketika kita bisa 'melebihkan' ibadah di atas kepentingan pribadi duniawi -kapanpun, dimanapun - , di situ lah kita mendapatkan esensi kurban yang sebenarnya.
Ikhlas adalah salah satu tantangan terbesar hidup manusia.
| Reactions: |
Saturday, July 04, 2009
Active Learning
| Reactions: |
Saturday, March 28, 2009
Series of Innocent Story - 3
"Miss, aku basah banget nih...", katanya sambil tertawa-tawa. Kulihat seluruh bajunya memang basah kuyup, dan memang di luar sempat hujan, namun tak seharusnya ia berada di luar. "Ya ampun, Mei kenapa?" Awalnya aku khawatir. "Itu tadi aku diajak main sama Baba becek-becek. Aku guling-guling, Miss, enak..." Dalam sekejap kekhawatiranku berubah jadi sedikit kemarahan. "Kamu guling-guling di mana?" tanyaku. "Itu Miss, di lantai tiga itu lho yang ada air-air abis hujan," jelas Mei. "Itu Miss, di balkon lantai tiga yang tadi bekas kena hujan," sahut pengasuh Baba membantu menjelaskan. Baru aku mengerti.
Sejujurnya aku bingung harus bilang apa. Dia cuma bereksplorasi. Akhirnya aku cuma memberi sedikit nasehat padanya kalau perempuan tidak selamanya punya permainan yang sama dengan laki-laki, apalagi kalau memakai rok.

Tak lama kemudian orang tua mereka datang. Rupanya hari itu mereka memang akan dijemput karena orang tuanya harus mengantarkan kandang baru pengganti yang pecah. Kurang lebih, mereka juga tidak bisa berkata banyak. Sang ibu dengan sabar membantu Mei berganti pakaian. Sang ayah hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menasehatinya.
Sebenarnya, jujur, di luar kekacauan yang diperbuat Mei, aku harus acungi jempol untuk keberaniannya. Mungkin ia memang belum terlalu mengerti konsep 'resiko' atau 'akibat'. Tapi justru faktor kebebasan itulah yang membuatnya bereksplorasi banyak. Tinggal bagaiamana kita sebagai orang dewasa menjaganya dan membuat peraturan dalam mereka bereksplorasi untuk kelancaran prose eksplorasi itu sendiri. Agak berat... terlebih untuk aku yang jarang punya keberanian untuk mengambil resiko di dalam hidupku.
Go on, Mei..
| Reactions: |