Seidealis-idealisnya orang, tidak mudah untuk menjadi proaktif dalam segala situasi. Aku seorang guru. Tapi beranikah aku menjalankan peranku di luar kelas?
Tadi sore, di angkot, ada seorang ibu dan anak perempuan balitanya yang belum bicara, bersama budenya (tante). Si bude ini sangat suka sekali berbicara dengan si balita, sedangkan ibunya cenderung diam. Si balita ini tidak duduk diam. Dia sesekali bersuara, "Aaaa, aaaa", sambil berusaha turun dari pangkuan ibunya dan berjalan di angkot yang agak sepi itu.
Entah kenapa, kemudian si bude yang daritadi bicara terus itu berulang-ulang bilang begini (kurang lebih), "Hayo adek... hayo adek " (aku sambil melihat &senyum ke arah balitanya) "tuh, nanti kakak itu marah lho.. hayo dimarahin lho sama kakak tuh..." (dengan nada tenang seperti ajak bercanda). "Hayo... bude tuyun aja ya, kalo gitu bude tuyun aja ya..."
Terus dan lagi, dan lagi. Padahal balita itu tidak ribut. Ibunya juga tenang-tenang saja.
Nah, di sini... aku ternyata gak bisa berbuat apa-apa. Berdasarkan feeling penormaan di Indonesia, ibunya saja cuma diam, apalagi saya gak mungkin ikut campur. Padahal dalam hati... uuuh.. tolong dong bude bicara yang lebih mendidik. Kesalahan dia nomor satu adalah dia menyebut-nyebut soal dimarahi pada konteks yang nonsense, kedua ikut-ikutan baby talking.
Idealnya, guru harusnya mendidik orang.
Kenyataannya, tidak mudah pada situasi tertentu untuk menjadi proaktif.
Maaf.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
1 comments:
wahh mbak rissa...tampaknya saya perlu belajar banyak mengenai pendidikan psikologis terutama untuk balita, setelah PAUD, ternyata proses pendidikan motoris anak itu penting juga ya buk? bagi bagi ilmu donk...gw bahas ttg PAUD ris, coba kasih komen yah, visit me on : blognengyoan.blogspot.com
cu then ;)
Post a Comment