Sunday, March 07, 2010

Departures - A Japanese Movie; one of the best.


Film ini bukan film sekedar cinta, bukan sekedar perjalanan hidup, tetapi lebih dari semua itu. Saya rasa kita semua butuh menyaksikan film ini untuk sekedar berhenti dan berefleksi - emosional maupun logikal.


Garis besarnya, film ini bercerita mengenai seorang pemuda yang ditinggal pergi bapaknya sejak kecil, sementara ibunya meninggal ketika dia remaja. Ia telah menikah dan meniti karir sebagai pemain cello. Namun nasib berkata lain, orkestra tempat ia bekerja bangkrut, sehingga ia memutuskan untuk tinggal di rumah warisan ibunya, kembali ke kampung halaman.

Sesampai di sana, ia mencari pekerjaan apapun untuk memenuhi kebutuhan hidup. Di sini lah perjalanan dimulai. Takdir membawanya pada profesi langka - perias jenazah.


Saya tidak mau merusak kemasan cerita yang murni disampaikan oleh film ini. Jadi untuk selanjutnya silahkan tonton filmnya, atau lihat situs ini: http://www.departures-themovie.com/


Tentang kematianlah yang kemudian mengusik saya. Bukan cuma karena film ini. Tetapi film ini mendesak saya untuk menuliskannya.


Seorang bapak tua penyala api kremasi mengartikan kematian sebagai gerbang menuju sesuatu yang lain. Kematian bukanlah akhir, tetapi merupakan awal dari sesuatu yang lain. Oleh karenanya ia selalu mengatakan kepada jenazah yang ia kremasi, "Sampai bertemu.. "


Secara teori, kita tahu itu. Sebagai orang yang beragama kita tahu itu. Tapi apakah kita paham? Apakah kita rela? Apakah kita bisa benar-benar mengatakan, "Sampai bertemu," dengan hati yang tulus dan kesiapan yang penuh?


Sedemikian kecil hidup kita ini, jika kita bisa benar-benar memandang jauh pada masa di luar kehidupan.

Semua hal hanya terjadi sekali. Setiap momen di setiap detik hanya terjadi sekali. Dan kita tidak pernah tahu kapan detik kita akan habis.

Tapi kapanpun itu, seberapa panjang apapun itu, detik-detik kita hanyalah sebuah titik yang kecil.


Jujur saja, tidak mudah buat saya sendiri untuk menerima dengan tulus ikhlas pemahaman ini.

Sedih.


Sebagai seorang muslim,

Mungkin kita sering membaca Al Asr dlm shalat kita, dan tanpa sadar kita berulang kali mengingatkan diri kita sendiri soal 'masa' ini.

Tapi kita juga dengan mudah lupa.


Ok, kita mulai dari yang kita bisa.

Awali dengan mengisi setiap detik dengan sesuatu yang bermakna. Jangan biarkan satu detikpun mubazir untuk kemudharatan. Insya Allah.


Mari berjuang :)

1 comments:

mbak dan said...

nice.. :) jadi pengen nonton juga